Sabtu, 30 Maret 2013

INDUKTIF


Yaitu adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus.

Macam-Macam Silogisme di dalam Penalaran Induktif:

Di dalam penalaran induktif terdapat tiga bentuk penalaran induktif, yaitu generalisasi, analogi dan hubungan kausal.


1. Generalisasi adalah proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum.




Contoh generalisasi :

Jika ada udara, manusia akan hidup.

Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
Jadi, jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.



2. Analogi adalah cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.




Contoh analogi :

Nina adalah lulusan Akademi Amanah.

Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan Akademi Amanah.
Oleh Sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.



3.Hubungan Kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.




Macam hubungan kausal :

a. Sebab- akibat.

Hujan turun di daerah itu mengakibatkan timbulnya banjir.



b. Akibat – Sebab.

Andika tidak lulus dalam ujian kali ini disebabkan dia tidak belajar dengan baik.



c. Akibat – Akibat.

Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran di rumah basah.


4.hipotesis adalah sebuah jawaban sementara terhadap masalah yang bersifat praduga karena masih membuktikan kebenaran nya.Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.

Referensi :

Keraf Gorys, Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1989.

Aadanwde, ‘Berfikir Induktif dan Deduktif’ Gorys keraf. (Online). (http://aadanwde.wordpress.com/2012/04/21/berfikir-induktif-dan-deduktif-gorys-keraf/, diakses tanggal 29 Maret 2013).

DEDUKTIF

Sebagai suatu istilah dalam penalaran, deduktif/deduksi adalah merupakan suatu proses berfikir (penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada, menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan. Dakan penalaran deduktif, penulis tidak perlu mengumplkan fakta fakta, yang perlu baginya adalah suatu proposisi umum dan suatu proposisi yang menidentifikasi suatu peristiwa khusu yang bertalian dengan suatu proposisi umum tadi.

Dalam deduktif uraian mengenai proses berfikir antara lain :

Silogisme Kategorial
Secara khusus silogisme kategorial dapat dibatasi sebagai suatu argumen deduktif yang mengandung suatu rangkaian yang terdiri dari tiga proposisi kategorial, yang disusun sedemuikian rupa sehingga ada tiga term yang muncul dala rangkaian pernyataan itu dan tiap term muncul dalam dua proposisi.

Contoh :
    1. Semua Buruh adalah Manusia Pekerja.
    2. Semua Tukang Batu adalah Buruh.
    3. Jadi, Semua Tukang Batu adalah Manusia Pekerja.

Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotese. Silogisme hipotesis bertolak dari suatu pendirian, bahwa ada kemungkinan apa yang disebut dalam proposisi itu tidak ada atau tidak terjadi. Premis mayornya mengandung pernyataan yang bersifat hipotesis. Oleh karena sebeb itu rumus proposisi mayot dari sologisme ini adalah:

Jika P, maka Q

Contoh :
Premis Mayor  : Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal.
Premis Minor  : Hujan Tidak Turun.
Konklusi      : Sebab itu Panen akan Gagal.

Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif biasa disebut juga silogisme disjungtif,
sologisme ini dinamakan demikian karena proposisi mayornya merupakan sebuah proposisi yang mengandung kemungkinan kemungkinan atau pilihan pilihan. Sebaliknya proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya.

Contoh :
Premis Mayor  : Ayah ada dikantor atau dirumah.
Premis Minor  : Ayah ada dikantor.
Konklusi      : Sebab itu, Ayah tidak ada dirumah.
Atau
Premis Mayor  : Ayah ada dikantor atau dirumah.
Premis Minor  : Ayah tidak ada di kantor.
Konklusi      : Sebab itu, ayah ada dirumah.

Entimen
Silogisme sebagai suatu cara untuk menyatakan pikiran tampaknya bersifat artifisial. Dalam kehidupan sehari hari biasanya silogisme itu muncul hanya dengan dua proposisi, salah satunya dihilangkan. Walaupun dihilagkan, proposisi itu tetap dianggap ada dalam pikiran, dan dianggap diketahui pula oleh orang lain. Bentuk semacam ini dinamakan entimen yang berarti 'simpan dalam ingatan' dalam bahasa yunani. Dalam tulisan tulisan bentuk inilah yang dipergunakan, dan bukan bentuk yang formal seperti silogisme.

Contoh :
Premis Mayor  : Siapa saja yang dipilih mengikuti pertandingan Thomas Cup adalah Seorang pemain kawakan.
Premis Minor  : Rudy Hartono terpilih untuk mengikuti pertandingan Thomas Cup.
Konklusi      : Sebab itu Rudy Hartono adalah seorang pemain (Bulu Tangkis) Kawakan.
Entimen       : Rudy Hartono adalah seorang pemain bulu tankis kawakan, karena terpilih untuk mengikuti pertandingan Thomas Cup.


Referensi  :
Keraf Gorys, Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit PT Gramedia, 1989.

Aadanwde, 'Berfikir Induktif dan Deduktif' Gorys Keraf.(Online).
(http://aadanwde.wordpress.com/2012/04/21/Berfikir-Induktif-dan-deduktif-gorys-keraf/, diakses tanggal 29 maret 2013).

PENALARAN

Pendahuluan

Penalaran adalah proses berfikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengerian. penalaran bukan saja dapat dilakukan dengan meoergunakan fakta fakta yang masih berbentuk polos, tetapi dapat juga dilakukan dengan mempergunakan fakta fakta yang telah dirumuskan dalam kalimat kalimat yang berbentuk pendapat atau kesimpulan.

Proposisi

Proposisi adalah pernyataan dalam bentuk kalimat yang memiliki arti penuh, serta mempunyai nilai benar atau salah, dan tidak boleh kedua-duanya. Maksud dari kedua-duanya ini adalah dalam suatu kalimat proposisi standar tidak boleh mengandung 2 pernyataan benar dan salah sekaligus. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis(antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).

Inferensi dan Implikasi

Beberapa pengertian yang berkaitan dengan penalaran antara lain inferensi dan implikasi. inferensi berasal dari kata latin inffere yang berarti menarik kesimpulan. Sedangkan implikasi berasal dari bahasa latin implicare yang berarti melibat atau merangkum. Dalam logika, kata inferensi adalah kesimpulan yang diturunkan dari apa yang ada dalam fakta. Sedangkan implikasi adalah rangkuman, sesuatu yang dianggap ada karena sudah dirangkum dalam fakta/evidensi itu sendiri.

Wujud Evidensi

Dalam wujudnya yang paling rendah evindensi berbentuk data atau informasi. yang dimaksud data atau informasi adalah bahan keterangan yang diperoleh dari sumber tertentu. Fakta adalah sesuatu yang sesungguhnya terjadi, atau sesuatu yang ada secara nyata.

Cara Menguji Data

Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara cara tertentu sehingga bahan bahan yang merupakan fakta itu siap digunkan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut.

         Observasi.
         Kesaksian.
         Autoritas.

Cara Menguji Fakta

Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakinan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.

         Konsistensi.
         Koherensi.

Cara Menguji Autoritas

Seorang penulis yang objektif selalu menghindari semua desas desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.

         Tidak Mengandung Prasangka.
         Pengalaman dan Pendidikan Autoritas.
         Kemashuran dan Prestise.
         Koherensi dengan Kemajuan.


Referensi  :

Keraf Gorys, Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit PT Gramedia,  1989.

Wikipedia, Penalaran. (Online).
(http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran,diakses tanggal 29 Maret 2013).


T.Wahyu, Penalaran1.ppt.(Online).
(t_wahyu.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/.../Penalaran1.ppt, diakses tanggal 29 maret 2013).