Minggu, 07 Oktober 2012

Bahasa Indonesia

1. Jelaskan dengan contoh penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar.
 Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Sejak dari pendidikan dasar sampai kuliah, kita sering mendengarkan penjelasan tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Pengertian tersebut tidak sepenuhnya salah, namun kurang lengkap, sehingga orang akan menilai bahwa seseorang telah menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar jika sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan KBBI, tidaklah demikian.
       Kita mengetahui konsep tentang ragam bahasa yakni ada ragam formal dan ragam informal. Ragam formal biasa juga disebut dengan ragam resmi yakni penggunan bahasa dalam situasi resmi, sedangkan ragam informal/nonformal yang biasa juga disebut dengan ragam tak resmi yakni penggunan bahasa dalam situasi tidak resmi. Dalam situasi formal atau resmi ini bahasa Indonesia yang digunakan seperti dalam jurnal ilmiah, karya tulis ilmiah, surat resmi, pidato resmi, dan sebagainya, semua bentuk komunikasi harus sesuai dengan EYD, sedangkan dalam situasi informal digunakan bahasa Indonesia yang digunakan seperti dalam pembicaraan antara penjual dan pembeli di pasar, bentuk komunikasi tidak harus sesuai dengan EYD. Seperti halnya saat kita dalam berpakaian, tentu saja kita akan memakai setelan baju sesuai dengan acara yang akan kita ikuti, kita akan memakai seragam sekolah saat kita sekolah, baju renang saat berenang, baju kondangan (baju batik misalnya) saat kita menghadiri resepsi pernikahan, baju santai (kaos) saat santai, baju tidur saat kita tidur, bahkan (laki-laki) akan menambahkan dasi yang bagus pada saat menghadiri pertemuan resmi, dan sebagainya.
       Jadi pengertian Bahasa Indonesia yang baik dan benar ialah bahasa Indonesia yang digunakan menurut medianya, situasinya, penuturnya, bidang persoalannya. Kita tidak cukup menggunakan media lisan, tetapi media tulis ketika kita memberitahukan ijin untuk tidak masuk kuliah karena sakit. Media ini lebih efektif, jelas, dan dapat dipercaya karena “hitam di atas putih” atas nama orang tua atau dokter. Demikian halnya sebaliknya ada saat-saat dimana kita jauh lebih tepat menggunakan media lisan disbanding media tulis, misalnya saat kuliah tatap muka, wawancara, pidato, ngobrol, dan sebagainya.
        Jika situasinya formal maka bahasa Indonesia yang digunakan harus sesuai dengan EYD dan KBBI, namun jika situasinya nonformal bahasa Indonesia tidak harus sesuai dengan EYD dan KBBI. Maksudnya, tidak mungkin seseorang saat di pasar menggunakan bahasa yang sesuai dengan aturan EYD dan KBBI, akan terlihat aneh, sebaliknya tidak mungkin juga seorang presiden menyampaikan pidato resmi atau mahasiswa yang menulis Karya Ilmiah dengan bahasa sehari-hari. Bahasa gaul atau bahasa alay merupakan salah satu ragam bahasa Indonesia. Bahasa alay akan baik dan benar jika digunakan dalam situasi nonformal dalam komunitas tertentu, dalam jejaring sosial facebook atau twitter misalnya, namun akan salah saat bahasa alay masuk dalam ranah formal.
       Jika penutur dan mitra tuturnya memiliki hubungan yang akrab, maka bahasa yang digunakan pun akan berbeda ketika meraka kurang akrab, bahkan tidak akrab. Ketidakakraban antara penutur dan mitra tutur membuat jarak bahasa, artinya penutur dan mitra tutur akan menggunakan ragam bahasa yang lebih formal, bukan ragam sehari-hari. Jika kita bandingkan dalam bahasa Jawa, sangat dimungkinkan seorang penutur akan menggunakan ragam kromo saat bertemu dengan mitra tutur yang tidak akrab dengannya, namun akan menggunakan ragam ngoko jika hubungan keduanya lebih akrab. Dalam bahasa Indonesia tidak memiliki tingkat tutur dalam bahasanya, namun ragam bahasa yang dipengaruhi oleh media, situasi, penutur, dan bidang persoalan.
       Sangat dimungkinkan seseorang ketika dalam pembicaraan (ragam) resmi, muncul bentuk-bentuk bahasa nonformal. Misalnya saja seorang pengajar (dosen) yang sedang menyampaikan materinya tidak mungkin hanya dengan bahasa resmi saja, pasti akan muncul bentuk-bentuk nonformal dalam prakteknya. Bahkan tidak hanya ragam tidak resmi, bentuk-bentuk campur kode (campur dengan bahasa lain) dan alih kode (alih dalam bahasa lain) juga sering muncul. Dalam hal ini tujuan pengajaran yang hendak dicapai, sehingga mahasiswa dapat menangkap dan memahami materi yang disampaikan, ini yang disebut dengan “tujuan didaktis”.
Contoh Menggunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar” dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan “bahasa Indonesia yang baik dan benar” mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran. Bahasa yang diucapkan bahasa yang baku.
         Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik.
Contoh:
  1. Dosen memberi tahu info kepada mahasiswa.
  2. Paman mengendarai mobil kesayangannya.
  3. Adik ke sekolah menggunakan sepeda.
  4. Ari menjatuhkan sesuatu ke tempar sampah.
  5. Ibu berangkat ke Bandung.




 2. Berikan contoh fungsi Bahasa sebagai alat komunikasi.
      Fungsi Bahasa
 
Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari.

Contoh :
Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri
            Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya, seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.
Sebagai contoh lainnya, tulisan kita dalam sebuah buku,  merupakan hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. Akan tetapi, pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita.
Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.
Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :
-         agar menarik perhatian orang  lain terhadap kita,
-         keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi
Pada taraf  permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang  sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri.

Bahasa sebagai Alat Komunikasi
            Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.
Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita.
Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial
            Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat  hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya.

Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.
Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.